Gravity, Merangkul Owner Hyundai Grand Avega Nusantara

16 Mei 2017
140 Views

Ciputat – Perkembangan internet menjadikan dunia maya sebagai wadah awal suatu komunitas.  Seperti salah satu komunitas mobil yang berbasis di Ciputat, Tangerang Selatan bernama Grand Avega Community (Gravity) ini pertama kali berkumpul dari situs KASKUS.

Awalnya memang dari sebuah postingan di KASKUS yang me-review varian baru dari Hyundai yakni Grand Avega yang baru launching. Para pengguna Grand Avega pun merespon postingan tersebut hingga tercapailah sebuah kesepakatan untuk kopi darat (Kopdar). Komunikasi pun terjalin hingga akhirnya para pengguna Hyundai Grand Avega mendeklarasikan komunitas bernama Grand Avega Community (Gravity) pada tanggal 29 Januari 2012.

Dikatakan Adiwibowo Sitompul, Founder Grand Avega Community (Gravity) bahwa sejak launching Grand Avega pada Juli 2011 di ajang Indonesia International Motor Show 2011, beberapa bulan kemudian baru terbentuk Gravity. “Berawal dari KASKUS dan kita kopi darat (Kopdar) pertama di SCBD, Jakarta. Pertemuan selanjutnya baru mengarah untuk membentuk sebuah komunitas yang berlangsung di Flavor Bliss, Alam Sutera hingga akhirnya terbentuk menjadi sebuah komunitas yang berjalan hingga saat ini,” jelasnya.

Pertemuan di Flavor Bliss yang dihadiri oleh 12 orang pemilik Grand Avega menjadikan 12 orang tersebut founder Gravity. Dari yang hanya memiliki 50 member lambat laun, member Gravity hingga kini mencapai angka 300 member.

Keberadaan member Gravity tersebar di seluruh pelosok Nusantara dari Sabang hingga Merauke. Sebut saja kota besar seperti Tangerang, Jakarta, Depok, Bandung, Jambi, Balikpapan, Cirebon, dan Yogyakarta terdapat member Gravity. Gravity juga merupakan salah satu Komunitas Grand Avega yang sudah diakui oleh Hyundai Motor Indonesia dan juga tergabung dalam Paguyuban Forum Komunikasi Klub dan Komunitas Otomotif (FK3O).

Laiknya komunitas pada umumnya, Adi menjelaskan Gravity memiliki kegiatan rutin seperti kopdar, kopsan, touring, family gathering, bakti sosial, olahraga, mengikuti kontes. Mengusung nama komunitas menjadikan Gravity lebih fleksibel dalam mengatur member. Mengsung sistem kekeluargaan menjadikan Gravity sebagai keluarga kedua selain keluarga utama.

“Kita fleksibel aja, karena memang komunitas bukan menjadi hal yang dinomorsatukan, ada hal-hal lain yang harus dinomorsatukan seperti keluarga dan pekerjaan. Selama bisa mengikuti kegiatan Gravity seperti kopdar dll dipersilahkan, kalau tidak bisa juga tidak apa-apa karena memang tidak ada paksaan. Utamanya kenal antarsesama member dan silaturahmi terjalin dengan baik.” (adh)

 

Leave A Comment