oleh

Airin Jadi Pembicara di Seminar Pemberdayaan Perempuan bertema “Partisipasi & Eksistensi Perempuan Dalam Perpolitikan Indonesia”

Tangerangcorner – Ketua Bidang perempuan DPP Partai Golkar dan Ketua Umum Kesatuan Perempuan Partai Golkar (PP KPPG), Airin Rachmi Diany menyatakan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam dunia perpolitikan Tanah Air.

Hal tersebut Ia ungkapkan di hadapan para mahasiswi dalam acara Seminar Pemberdayaan Perempuan bertema “Partisipasi & Eksistensi Perempuan Dalam Perpolitikan Indonesia” yang berlangsung di Aula Madya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ciputat, Tangerang Selatan, Jumat (23/9/2022).

“Kesetaraan gender menyatakan bahwa adanya kesejajaran antara pria dan wanita dalam hak dan kewajiban. Serta wanita mempunyai hak yang sama dengan pria dalam hak asasi manusia, namun harus sesuai dengan kodratnya masing-masing,” ungkap Airin.

Dengan begitu, lanjut Airin, partisipasi perempuan dalam dunia perpolitikan sangatlah penting.

Seperti dirinya yang telah membuktikan dengan keberhasilannya dalam pencalonan sebagai Kepala Daerah, serta menjabat menjadi Wali Kota Tangsel selama dua periode.

“Ada kemauan untuk ikut dalam kontestasi. Karena ikut kontestasi kan bisa menang bisa kalah,” imbuhnya.

Kemauan itulah yang kini harus digelorakan. Sebab berdasarkan data, keterlibatan kaum perempuan dalam dunia perpolitikan kini masih minim.

“Jumlah anggota DPR RI belum mencapai kuota 30 persen. Sekarang di angka 20,8 persen. Sedangkan jumlah anggota DPRD Provinsi, untuk wilayah Jawa masih sekitar variatif. Tertinggi DKI Jakarta, dengan 21 persen. Lalu yang lain juga fluktuatifnya masih belasan persen,” papar Airin.

Untuk itu, Airin berharap agar dalam kontestasi politik akbar 2024 mendatang, partisipasi kaum perempuan dapat meningkat.

“Mudah-mudahan di 2024 bisa ada tambahan untuk anggota legislatif perempuan dari partai manapun,” harapnya.

Hal Ia ungkapkan bukan tanpa sebab. Menurutnya, keterlibatan kaum perempuan dalam dunia perpolitikan ini dapat juga sekaligus menambah kekuatan dalam hal memperjuangkan kesetaraan gender di Tanah Air.

“Manfaat legislatif misalnya tentu bisa membawa isu perempuan dalam mengambil keputusan. Kita tahu sebagai anggota DPR fungsi utamanya itu ada tiga, membuat atau merumuskan undang-undang, sebagai penyusunan anggaran, dan tentu fungsi pengawasan terhadap pemerintahan yang berjalan,” terangnya.

Meski begitu, Airin tak menampik, masih saja terdapat perspektif negatif terhadap kepemimpinan seorang perempuan. Hal itulah yang dahulu kerap dirasakan, kala dirinya memimpin kota termuda se-Banten, yang kini telah menjelma sebagai daerah maju di Indonesia.

“Dianggap kurang mandiri, mudah menyerah, kurang tegas, lebih mengedepankan emosi, tidak fokus, ini yang saya alami saat pencalonan kepala daerah. Dari 2010-2015 isu-isu itulah yang timbul dalam diri saya saat saya menjabat sebagai wali kota,” ungkapnya.

Ditambah lagi, dengan adanya tantangan yang terus menghadang para kaum perempuan di bidang perpolitikan ini.

“Seperti adanya dominasi laki-laki, ini masih terjadi. Multi peran di keluarga, kerja dan lingkungan. Tingkat ekonomi, pendidikan, dan lainnya,” tuturnya.

Namun hal itu semua berhasil Ia tepis dengan keberhasilannya memimpin Tangsel, yang kini telah menjelma sebagai salah satu wilayah maju di Indonesia.

Ia yakin, semua orang dapat melakukan hal seperti yang dilakukannya itu. Sebab, kata Airin, perempuan memiliki kompetensi khusus yang dapat dimanfaatkan dalam bidang perpolitikan.

“Mampu menjual ide gagasan, mampu membangun kolaborasi karena lebih fleksibel, ketahanan terhadap tantangan dan cobaan, visioner, mampu menjadi pemimpin dan bawahan yang baik, mampu memahami prinsip menegosiasi yang baik, dan mampu mengambil keputusan dengan baik. Upaya yang harus kita lakukan sebagai perempuan, di mana kita harus bisa meningkatkan kualitas kemampuan keilmuan dan pendidikan kita,” terangnya.

Kepada mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Airin pun membocorkan rahasia kesuksesannya dalam dunia perpolitikan yang telah dijalaninya lebih dari satu dekade ini.

Kuncinya, kata Airin, adalah wajib memilih hal yang disukai terlebih dahulu. Dahulu, Airin menyadari menjadi Kepala Daerah adalah passion atau semangat dirinya. Lalu di sisi lain, pendidikan formal juga menjadi faktor yang sangat penting.

“Apa yang kita sukai ketahui dulu, passion apa yang kita sukai. Lalu pendidikan formal adalah batu loncatan agar kita punya ilmu formal dan non formal. Kalau formal sudah dikuasai dan gelar masih diperlukan, ikuti semua itu. Dan setelah itu kalian lihat apa yang menjadi passion. Ikuti itu semua,” ungkap Airin.

“Jadi dengan ilmu yang didapat pilihlah sesuatu yang kalian sukai. Jika sudah kalian sukai maka pelajari semuanya dan coba berkembang,” sambungnya.

Untuk itu, Airin yakin, kesuksesannya ini dapat diikuti oleh siapapun. Bukan hanya dalam dunia perpolitikan, namun juga lainnya. Khususnya bagi para generasi muda.

Pasalnya, generasi milenial saat ini memiliki berbagai keuntungan. Terutama dunia informasi yang kini sangat terbuka.

“Jadi kaum perempuan gak usah ragu kalau ingin menjadi Wali Kota, Bupati, Gubernur. Yuk dari sekarang kalian coba lihat. Tapi kuncinya, mau terus mencari ilmu. Maka kita akan menjadi profesional dalam bidang apapun yang kita pilih,” pungkasnya.

Senada dengannya, Wakil Rektor Kemahasiswaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Arif Subhan mengatakan, isu kesetaraan gender ini menjadi persoalan yang cukup laku dibicarakan.

Menariknya, hal itu pun berlanjut dalam isu keterlibatan kaum perempuan di bidang perpolitikan.

“Partisipasi perempuan masih kurang 30 persen. Sehingga isu ini msh sangat relevan untuk dibicarakan. Karena sekaligus juga ingin memberikan inspirasi, wawasan kepada mahasiswa bahwa sebenarnya ruang-ruang di wilayah publik luas, termasuk perpolitikan,” tandasnya. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed