LIPI Kembangkan Baja Laterit

15 Agustus 2019
27 Views

Tangerang Selatan – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Metalurgi dan Material melaksanakan penelitian serta pengembangan sifat-sifat logam tambang dengan menonjolkan keunggulan kandungannya untuk menambah nilai jual.

Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Materil LIPI, Nurul Taufiqu Rochman mengatakan ada empat yang sedang dikembangkan yakni pengolahan dolomit, kawat superkonduktor, pembangunan sistem kontruksi transportasi berbasih laterit, dan pembuatan implan generik seperti pen dan tempurung lutut.

“Kami melakukan proses modifikasi sifat-sifat paduan baja dengan menonjolkan keunggulan nikel karena bahan baku biji laterit dengan kandungan Ni cukup tinggi dan berlimpah di Indonesia,” ujar Nurul, Selasa (13/8/2019) di Kawasan Puspiptek, Jalan Raya Serpong, Muncul, Setu, Tangerang Selatan (Tangsel).

Nurul menjelaskan, pihaknya fokus untuk mendukung infrastruktur konektivitas serta transportasi berbasis bijih nikel laterit. Pengembangan dan pemanfaatan baja laterit untuk menjawab tantangan pembangunan pada sistem konstruksi dan transportasi.

“Penelitian baja laterit meliputi lingkungan darat dan lingkungan pesisir yang menuntut adanya peningkatan sifat ketahanan ketangguhan kekuatan menahan beban dan ketahanan korosi,” jelasnya.

Salah satu yang menjadi fokus penelitian adalah pengembangan produk implan generik, seperti pen dan tempurung lutut.

Ketergantungan pada alat kesehatan impor masih tinggi seringkali ada ada ketidaksesuaian dengan bentuk dan ukuran tubuh Indonesia sehingga dokter seringkali harus menyesuaikan implan pada saat tindakan operasi

Untuk produk ini,pihaknya memanfaatkan logam titanium yang memiliki ketahanan seperti baja. “Namun lebih tahan korosi dan lebih ringan,” jelasnya.

Selain implan, LIPI juga mengembangkan teknologi pengolahan dolomit. Dolomit adalah mineral berbasis karbonat yang terdiri dari campuran magnesium karbonat dan kalsium karbonat.

Dalam pengembangan dolomit ini, pihaknya berupaya emberikan nilai tambah pada dolomit. Saat ini, dolomit hanya digunakan sebagai bahan bangunan dan pertanian dengan harga Rp 1.000 per kilogram.

“Teknologi ini diharapkan mampu menaikkan nilai jual dolomit menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Indonesia akan bisa mengurangi impor magnesium karbonat untuk bahan baku industri farmasi, percetakan, dan kertas,” tuturnya.

Selain itu, kata Nurul, LIPI juga tengah mengembangkan material yang digunakan sebagai industri pembangkit listrik yang telah dimodifikasi. “Dengan meningkatkan ketahanan korosinya, jangka waktu pemakaian suhu turbin menjadi lebih lama,” pungkasnya. (ccp)

Leave A Comment