oleh

Memiliki Pandangan Keberagamaan yang Moderat, Jadi Bekal Penting Dalam Menjaga Keutuhan Kebangsaan

Tangerangcorner.com – Aktivis kegiatan Rohani Islam (Rohis) yang bergerak di sekolah-sekolah se-Provinsi Banten, berupaya untuk selalu menanamkan nilai keagamaan yang moderat.

Hal tersebut diungkapkan Direktur Pendidikan Islam Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Republik Indonesia, Amrullah dalam kegiatan Inovasi dan Kreasi Baru Kegiatan Rohis untuk SMU dan Pemetaan Internalisasi Nilai-nilai Moderasi Beragama di Sekolah, yang dilakukan dibeberapa lokasi, yakni Pantai Carita, Pandeglang pada beberapa waktu lalu.

“Dari informasi yang saya terima, aktivis Rohani Islam di SMA atau SMK, pada umumnya memiliki pandangan keagamaan moderat,” ungkapnya.

Untuk itu, dalam kesempatan tersebut Amrullah memberikan apresiasi tinggi atas kegiatan-kegiatan kerohanian siswa SMU saat ini yang jauh lebih kreatif dan inovatif merespon isu-isu sosial keagamaan yang muncul di masyarakat.

“Saya bangga dan sekaligus respect dengan siswa-siswa yang saat ini memiliki cara pandangan keberagamaan yang moderat.  Ini bekal penting dalam menjaga keutuhan kebangsaan,” tuturnya.

Acara yang berlangsung selama tiga hari itu diikuti oleh Pengurus Rohis dari 60 sekolah SMU Negeri se-Provinsi Banten. Dalam kesempatan itu, peserta mendapatkan pembekalan materi-materi pengetahuan dan pengalaman dalam menyusun kegiatan Rohis yang memiliki muatan moderasi beragama.

Selanjutnya, peserta juga menyusun program yang akan dilaksanakan sebagai kegiatan Rohis di sekolah mereka, maupun yang akan disebar ke sekolah-sekolah lain.

“Dengan fakta-fakta seperti ini, untuk masa yang akan datang, diharapkan tidak banyak kekhawatiran bahwa kegiatan Rohis di sekolah, akan menjadi salah satu pemicu paparan radikalisme untuk kalangan milenial,” tambah Amrullah.

Terbukanya ruang informasi digital, membuka ruang pertukaran informasi yang bisa diakses oleh setiap siswa. Penelitian yang dikerjakan oleh Pusat Pengkajian Islam dan masyarakat (PPIM) 2019, bahwa informasi digital di internet dan media sosial berkontribusi besar terhadap pembentukan cara pandang keagamaan yang radikal dan intoleran.

Siswa sebagai pengguna informasi berbasis internet berhadapan dengan gempuran informasi dari sumber-sumber  media. Tanpa ada rancangan pengalaman dan pemanduan yang didasari oleh kearifan local dan nilai-nilai moderasi dalam beragama, masih ada kekhawatiran munculnya sikap-sikap radikal dan intoleran.

Namun dengan fenomena terakhir yang bisa ditangkap dari basis-basis pemahaman dan pandangan keberagamaan siswa di sekolah, dapat disimpulkan, ke depan paparan radikalisme tidak merisaukan. (Rls)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed