oleh

Peran Pondok Pesantren Sebagai Pusat Ukhuwah Wathoniyah

Pamulang – Pondok Pesantren tidak jarang menjadi sasaran dan tuduhan negatif ketika faham radikal menyebar di masyarakat‎. Untuk itu perlu diluruskan pandangan masyarakat tersebut, justru dari pondok pesantren dimulai pergerakan melawan penjajah yang akhirnya Indonesia bisa merdeka.

Menurut Ketua Forum Silaturahmi Pondok Pesantren (FSPP) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) KH Nasuha Abu Bakar, dalam lembaga pendidikan seperti pondok pesantren harus mau menerima war‎isan dari pendahulu bahwa Indonesia ini terdiri dari berbagai macam suku bangsa dan agama.

“Pondok pesantren harus senantiasa mengajarkan santrinya mendekatkan diri kepada Allah SWT dan tidak lupa diajarkan pula kemandirian dan kewirausahaan. Tidak kalah pentingnya para santri juga diajarkan menyayangi sesama manusia, sebagai upaya membawa misi Rahmatan Lil ‘Alamin,” terang Nasuha Abu Bakar dalam Halaqoh Kebangsaan di Pondok Pesantren Ummul Quro, Pamulang, Kota Tangsel, Selasa (19/9/2017).

Dan yang terpenting menurut Nasuha Abu Bakar, di Pondok Pesantren juga diajarkan “Hubbul Wathan Minal Iman” atau mencintai tanah air adalah bagian daripada Iman.

“Dapat dikatakan bahwa pengajaran ini suatu bentuk loyalitas pesantren terhadap negara. Namun Pemerintah jangan lengah bahkan harus proaktif melihat keadaan pondok pesantren baik keadaan bangunan, kesejahteraan dan kelayakan‎ hidup bagi para penebar Rahmatan Lil ‘Alamin,” ucapnya.

Sementara itu pembicara yang merupakan perwakilan dari Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Solihuddin Nasution mengatakan berdasarkan hasil penelitian BNPT bahwa paham radikal banyak mempengaruhi dunia pendidikan seperti lembaga pendidikan, kampus maupun sekolah serta pondok pesantren.

“Jika memang ada guru maupun dosen yang mengajarkan paham-paham radikal maka segera dilaporkan kepada BNPT,”ujar Solihuddin dalam kegiatan yang mengangkat tema Peran Pondok Pesantren Sebagai Pusat Ukhuwah Wathoniyah. Sedikitnya hadir 150 orang santri dan juga siswa-siswi serta ibu-ibu majelis taklim dalam kegiatan ini.

Menurut Solihuddin, paham radikal saat ini tidak hanya menyasar kepada masyarakat yang kurang ekonominya, justru saat ini cukup banyak orang-orang yang berekonomi kuat ikut terpengaruh.

“Buktinya adalah banyak masyarakat yang terpengaruh menjual harta bendanya untuk kemudian pindah ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS. Namun kenyataannya yang terjadi di sana tidak seperti yang diharapkan,” ucapnya lagi.

Untuk itu peran pondok pesantren dan juga keluarga cukup penting sebagai sarana pengetahuan agar anak didiknya cinta tanah air sekaligus dapat menjalankan agama dengan baik.

Dikesempatan Halaqoh Kebangsaan yang diselenggarakan oleh Pergerakan Santri Tangerang Selatan (Pesats) ini, Dosen UIN Syarif Hidayatullah M Amin Nurdin menjelaskan, pondok pesantren selama ini telah memainkan tiga peran besar, yaitu sebagai mediator dakwah dan penjaga moral bangsa serta modernisasi Islam di Indonesia.

“Dalam perjalanannya pesantren sebagai produk globalisasi saat ini tidak terhindarkan terkena dampak proses globalisasi yaitu adanya gejala radikalisasi di Indonesia,” ujar Amin

Amin Nasuha mengambil contoh pesantren di Bogor yaitu Ibnu Masud yang santri-santrinya dikirim ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

“Penyebabnya adalah mereka diberikan paham-paham radikal oleh gurunya di pondok pesantren itu, padahal faham-faham radikal ini tidak cocok untuk diterapkan di Indonesia,” kata Amin.

Amin menambahkan bahwa Islam di Indonesia bersifat inklusif, moderat, wasatiyah, yang berada di tengah-tengah.

“Paham kerukunan di Indonesia sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Al Qur’an dan sunnah. Seorang Muslim yang baik pastilah menjadi seorang warga negara yang baik pula,” pungkasnya.‎(nto)